BeritaNews

Diskusi Sehari: Sejarah Kerajaan Larantuka dalam Menjaga Eksistensi Tradisi Religi Semana Santa

Spread the love

Oleh: Karolus Banda Larantukan, S.Fil., M.Hum

IKTL, Larantuka – Rektor Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka, Dr. Imelda Oliva Wissang, M.Pd hadir sebagai narasumber bersama Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro dan Don Martinus DVG (Kerajaan Larantuka) dalam “Sejarah Kerajaan Larantuka dalam Menjaga Eksistensi Tradisi Religi Semana Santa” di Istana Kerajaan Larantuka, Senin (08/12/2025).

Narasumber dalam Diskusi Sejarah Kerajaan Larantuka

Ketua Panitia, Ibu Dona DVG, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini terselenggara oleh dukungan penuh dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI Provinsi NTT.

Kegiatan ini juga merupakan pelestarian budaya Flores Timur tak benda yakni menggali sejarah Kerajaan Larantuka sebagai pemilik tradisi devosi Semana Santa dalam penguatan identitas budaya Flores Timur.

Hadir pula Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, S.Fil., yang diundang untuk memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan diskusi ini secara resmi. Bagi Wakil Bupati, diskusi seperti ini menjadi penting terutama menjelang tradisi Semana Santa sebagai bekal baik bagi yang hadir maupun dan terutama bagi generasi muda Flores Timur. Ini menjadi warisan budaya tak benda yang harus dilestarikan sebagai identitas umat dan masyarakat adat Lamaholot.

Dalam diskusi tersebut, Don Martinus DVG memaparkan sejarah Kerajaan Larantuka serentak dalam kaitan dengan tradisi Semana Santa yang dijaga dan dilestarikan oleh Kerajaan Larantuka bersama suku-suku Semana Santa.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengkaji dan memaparkan dari sudut pandang Teologi dalam kaitan dengan Peran Teologi Semana Santa dalam Penguatan Identitas Budaya Flores Timur. Uskup menyampaikan bahwa Semana Santa tidak saja peringatan akan kematian Yesus Kristus tetapi adalah juga peristiwa Kebangkitan Yesus Kristus. Bahwa Semana Santa berlangsung selama delapan hari, yakni sampai pada kebangkitan Yesus Kristus.

Di akhir pemaparannya Mgr. Hans Monteiro menyimpulkan bahwa peristiwa Semana Santa adalah perjumpaan antara tradisi Iman Gereja dan tradisi kebudayaan Lamaholot.

Foto para peserta diskusi sedang menyimak materi dari para narasumber.

Dr. Imelda Oliva Wissang, M.Pd sebagai pembicara terakhir memaparkan bagaimana Tradisi Semana Santa menghadapi berbagai tantangan di era modern dan bagaimana melestarikannya. Lebih lanjut, beliau menyampaikan apresiasi atas usaha luar biasa dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur sehingga Tradisi Semana Santa akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Tentu saja penetapan ini memberikan pekerjaan rumah bagi semua kita terutama dalam hal menjaga dan mewariskan yakni melestarikan warisan budaya ini dari generasi ke generasi.

Di akhir diskusi, ada sesi tanya jawab yang menambah wawasan akan dan tentang Tradisi Semana Santa sebagai bentuk penguatan identitas budaya Flores Timur.

Mari menjaga, merawat dan melestarikan Warisan Budaya kita, karena hanya demikianlah kita menjaga dan mewariskan identitas bangsa ini.*(editor: HBW)