Laporan KegiatanSastra

Mahasiswa PBSI Ajak Pelajar SMAK Asisi Dalami Keampuhan Sastra Merajut Damai di Tengah Resolusi Konflik

Spread the love

Laporan: Ameliana Derang Making

IKTL, Larantuka – Mahasiswa Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) semester 6, sukses menyelenggarakan kegiatan bedah dan diskusi cerpen pada Selasa, 28 April 2026, bertempat di gedung Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Flores Timur.

Kegiatan ini menjadi momentum menakar peran sastra dan kearifan lokal Lamaholot dalam menyelesaikan konflik. Cerpen karya penulis, pendiri Nara Teater, budayawan dan seniman Flores Timur, Silvester Petara Hurit, tuntas dan total merintis “jalan damai” melalui tokoh sentral “Ama Tobi”. Tokoh “Ama Tobi” adalah tetua kampung yang bijak dan berani ketika ia mampu merekonstruksi ingatan sekaligus menyadarkan peserta akan  “rahim”, asal yang sama yang disimbolkan dalam kampung serumpun.

Kegiatan didahului dengan seremoni awal, ucapan terima kasih dari pendamping Mata Kuliah Sastra, Dr. Imelda Oliva Wissang, M.Pd.

“Terima kasih atas tanggapan SMAK St. Fransiskus Asisi khususnya Kelas Bahasa dengan guru pendamping, Ibu Maria Letisia Sabu Balu, S.Pd., Gr untuk belajar bersama, memperkuat koneksi literasi sastra berkaitan dengan kearifan lokal Lamaholot. Respon baik ini sekaligus mempertajam kemampuan, kecerdasan, kekritisan dalam membedah cerpen karya penulis Lewotana.” Ungkap Imelda.

Lebih lanjut dalam sapaan pembukaan, Dr. Imelda menyampaikan terima kasih juga kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Flores Timur dan jajaran atas dukungan demi terselenggaranya kegiatan ini.

“Terima kasih kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Flores Timur dan jajaran yang memberi tempat sehingga kegiatan ini berlangsung dengan aman. Terima kasih untuk kerja sama sehingga generasi muda tidak hanya sekedar membaca dan paham isi cerpen, tetapi memiliki koneksi literasi yang kuat yakni bagaimana cerita itu ‘nyambung’ dengan kehidupan masyarakat.”

Sambutan Dr. Imelda Oliva Wissang, M.Pd (Dosen Pendamping)


Sinergi Akademisi dan Pelajar
Cerpen ini menjadi tuntas ketika ia berhasil mengubah paradigma batas dari “tembok yang memisahkan” oleh urusan administratif  dan  menjadi “ruang yang mempertemukan” oleh ketotalan tokoh Ama Tobi yang menyadarkan peserta akan makna ungkapan “serumpun”, bahwa kita sebenarnya sebagai saudara yang tak terpisah. Terungkap betapa luhurnya persaudaraan purba yang melintasi luas lautan dan hamparan daratan yang jauh membentang  yang tersirat dalam kisah Paji dan Demon muatan cerpen ini.

Isi cerpen ini dan realitas kehidupan ‘konflik vs jalan damai’ di kupas pemateri dari mahasiswa PBSI Sesilia Sia Tukan mengangkat isi cerpen dan memperkenalkan penulis. Pemateri Falentisia Prada Kumanireng dan Maria Petronela Mali Kumanireng membahas unsur intrinsik cerpen sebagai pengetahuan dengan transformasinya ke dalam realitas kehidupan. Sementara itu, Metilda Hadu Kroon, menghantar peserta untuk masuk dalam realitas, bagaimana fiksi menjadi fakta, bagaiman cerpen ini berkaitan erat dan menemukan titik simpulnya dengan realitas kehidupan, latar sosial budaya Lamaholot serta nilai-nilai yang menjadi pedoman hidup.

Diskusi cukup berkembang hingga pada soal sistem batas wilayah modern (warisan kolonial) yang sering kali memicu konflik di antara masyarakat yang sebenarnya masih memiliki ikatan kekerabatan, kekeluargaan. Apa yang bisa dilakukan? Tentu saja belajar dari “Ama Tobi” yang tidak hanya menyelesaikan konflik di atas kertas dan dalam cerita, tetapi menanamkan benih kesadaran dalam benak generasi muda bahwa menjaga persaudaraan jauh lebih berharga daripada memenangkan sejengkal tanah.

Antusiasme peserta dalam kegiatan bedah dan diskusi cerpen karya Silvester Petara Hurit

Kupasan Mendalam Hingga Kritik Sosial: Resolusi konflik bukanlah sebuah titik henti melainkan sebuah proses yang dinamis
Diskusi yang dipandu oleh moderator Ayenfiana Deran Jangan, melahirkan koneksi literasi yang kuat bahwa sastra, cerpen ini menjadi “jalan damai” saat ia keluar dari teks dan masuk ke dalam percakapan, di ruang kelas hingga ke ruang diskusi. Melalui narasi “Ama Tobi”, nilai-nilai seperti koda kaling (tutur adat) atau mekanisme rekonsiliasi tradisional diposisikan kembali sebagai solusi yang terhormat sekaligus sebagai jalan keluar yang bermartabat bagi kedua belah pihak tanpa ada yang merasa dirugikan.

Dengan membedah karakter “Ama Tobi” yang terjepit di antara kepentingan, pembaca (baik mahasiswa, siswa maupun masyarakat) diajak berempati pada penderitaan manusia di balik konflik. Dalam konteks ini, sastra melakukan “humanisasi” terhadap lawan. Saat lawan tidak lagi dilihat sebagai musuh, melainkan sebagai sesama manusia yang juga terluka, di situ pintu perdamaian terbuka lebar. Sastra mampu menghidupkan kembali narasi silsilah dan mitologi bahwa masyarakat yang bertikai sebenarnya berasal dari nenek moyang yang sama, Paji dan Demon. Karena ketika pembaca menyadari mereka sedang “melukai diri sendiri,” agresi tentu akan luruh secara alamiah, sebagaimana intisari pesan cerpen ini.

Cerpen ini, melalui alur kisah yang penuh warna sekaligus ketegangan, akhirnya tidak berhenti sebagai bacaan, tetapi benar-benar menjadi “jalan damai” yang tuntas dan total. Cerpen ini juga menyematkan pesan bagi generasi muda bahwa pada zaman serba maju dengan kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi, generasi muda harus mampu mencapai koneksi literasi sastra yang kuat dengan berlandas pada  tiga level transformasi, yakni kognitif berkaitan dengan cara berpikir, emosional, yakni cara merasa, dan praktis berkaitan dengan cara bertindak. “Mari belajar dari tokoh “Ama Tobi” yang representatif itu”, ungkap Ayen.

Antusiasme Generasi Z terhadap Isu Sosial
Sesi tanya jawab berlangsung dinamis dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan kritis dari siswa SMAK Asisi, mulai dari peran pemuda dalam menyikapi konflik masa kini hingga relevansi teknologi seperti AI (Artificial Intelligence) dalam dunia kepenulisan. Tuntas pula jawaban pemateri, mari kita belajar dari dunia sekitar, seperti pemahaman, dan pengetahuan yang semakin canggih, belajar bahwa sastra bisa membantu kita untuk menemukan “jalan” dan mengajarkan kita untuk terus berjuang membangun kesadaran diri karena masih ada yang lebih mulia daripada mempertahankan ego masing-masing. Dari pertanyaan yang muncul, terlihat bahwa para siswa tidak hanya menyimak, tapi mampu mengaitkan nilai-nilai budaya dalam cerpen dengan realitas sosial saat ini, ujar Sesilia Sia Tukan, salah satu pemateri.

Salah satu peserta mengajukan pertanyaan dalam sesi tanya jawab


Pesan Moral
Kegiatan ini memberikan pesan kuat bahwa menjaga persaudaraan adalah kunci hidup damai. Cerpen “Ama Tobi” mengajarkan pentingnya bertahan hidup di tengah krisis dengan tetap berpegang pada martabat dan kearifan lokal lamaholot sebagai jati diri kita. Pesan dan kesan agar kegiatan seperti ini terus digiatkan datang dari Fiol perwakilan siswa. Juga dari Ibu Leti, pendamping yang mengharapkan agar kegiatan seperti ini berlanjut dan kepada generasi muda agar giat berliterasi, membaca, menulis dan publik speaking.

Sebagai bentuk penghargaan dan simbol jalinan persaudaraan, ada penyerah sertifikat untuk SMAK St. Fransiskus Asisi Larantuka yang telah berkolaborasi dalam kegiatan ini.* (editor: HBW)