JURI (IKTL Terlibat dalam FLS3N di Kabupaten Flores Timur)
Penulis: Karolus Banda Larantukan
IKTL, Larantuka – 30 April 2026, hari Kamis, cuaca yang cerah, siswa-siswi SMAK St. Darius Larantuka hilir mudik di halaman depan sekolah, ada siswa-siswi yang duduk di tangga depan, ada yang memanggil temannya, para guru nampak serius, Saya dan Pak Ronny asyik ngobrol di teras depan sekolah itu. Kami berdua sesungguhnya sedang menunggu arahan dan juga sembari menunggu rekan juri lainnya, Ibu Cici namanya.
Ya hari itu, Kamis, 30 Apri 2026, kami bertiga diminta untuk menjadi Juri dalam perlombaan Jurnalistik, penulisan feature, antar SMA/SMK se-kabupaten Flores Timur. Saya dan Pak Ronny dari Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL), sedangkan Ibu Cici dari SMAK Seminari San Dominggo Larantuka.

Kegiatan ini merupakan Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kabupaten Flores Timur. Ada berbagai kegiatan yang diperlombakan baik seni maupun kreativitas dan juga keilmuan. Selain saya dan Pak Ronny, ada beberapa teman Dosen lainnya pun diminta dan ikut serta sebagai Juri dalam Lomba Debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
***
Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Flores Timur tahun ini bukan sekadar ajang kompetisi. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara bakat, kerja keras, dan penilaian yang penuh tanggung jawab. Keterlibatan IKTL sebagai bagian dari tim juri menjadi penegasan penting bahwa dunia kampus lokal turut mengambil peran strategis dalam membina dan mengapresiasi potensi seni generasi muda.
Selama sepekan, dari 27 April hingga 2 Mei 2026, ruang Aula SMAK St. Darius berubah menjadi panggung ekspresi. Dari lomba musik tradisional, tari kreasi, pembacaan puisi, monolog, film pendek, jurnalistik feature, menyanyi solo putra/putri hingga debat baik Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris serta lomba atletik, silat dan badminton menjadikan setiap sudut kompleks SMAK memancarkan energi kreatif dan ilmiah yang nyaris tak terbendung. Para peserta datang bukan hanya untuk menang, tetapi untuk menunjukkan jati diri mereka sebagai anak-anak Flores Timur yang kaya akan imajinasi dan warisan budaya serta memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni.
Di tengah dinamika itu, para juri dari IKTL hadir dengan peran yang tidak sederhana. Mereka bukan hanya penilai angka, tetapi juga pembaca makna serta analis berbasis akademis yang cermat. Setiap argumen debat dianalisis, setiap bait tulisan jurnalistik feature didalami dengan perspektif akademik sekaligus kepekaan kultural. Objektivitas menjadi prinsip utama, namun empati tetap menyertai.
“Menjadi juri bukan sekadar memilih siapa yang terbaik, tetapi bagaimana kita menghargai proses dan keberanian berdebat setiap peserta,” ungkap salah satu dosen IKTL, Sirilus K. K. Keban M.Pd, yang terlibat sebagai Juri Lomba Debat Bahasa Indonesia. Pernyataan itu mencerminkan pendekatan yang humanis dalam proses penilaian bahwa di balik setiap penampilan: ada ilmu yang dipelajari, ada latihan panjang, dan ada keberanian untuk tampil.
Kehadiran IKTL dalam FLS3N ini juga menjadi jembatan antara pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Para siswa tidak hanya tampil, tetapi juga secara tidak langsung berinteraksi dengan dunia akademik yang lebih luas. Ini menjadi ruang inspirasi bahwa kemampuan intelektual mereka dapat terus dikembangkan hingga jenjang yang lebih tinggi.
Menjelang hari penutupan, Sabtu 02 Mei 2026, suasana berubah menjadi lebih emosional. Perayaan 02 Mei yakni Hari Pendidikan Nasional diperingati dan dirayakan dengan tepuk tangan, sorak sorai, dan sesekali wajah haru mewarnai pengumuman pemenang di pelataran halaman SMAK St. Darius Larantuka. Namun, lebih dari sekadar hasil akhir, FLS3N tahun ini meninggalkan kesan mendalam: bahwa seni dan ilmu adalah bahasa bersama, dan kolaborasi antara sekolah dan kampus adalah fondasi penting dalam merawatnya.
Di balik panggung dan sorotan, para juri IKTL kembali dengan membawa satu keyakinan: bahwa Flores Timur tidak kekurangan talenta. Yang dibutuhkan adalah ruang, perhatian, dan kesinambungan pembinaan serta kolaborasi yang diatur dengan baik. FLS3N telah membuktikan itu dan IKTL, melalui peran kecilnya sebagai juri, turut menenun harapan bagi masa depan generasi muda di tanah Lamaholot Flores Timur.
***
Hari kamis itu, 30 April 2026, delapan peserta menulis karya perdana mereka dalam bentuk tulisan feature. Mereka hadir di aula SMAK. St Darius Larantuka didampingi guru dari sekolah asalnya. Bukan tentang siapa yang paling baik dan benar dalam menulis, tetapi kehadiran mereka membuktikan bahwa ‘peristiwa harus diabadikan, ditulis’. Selamat kepadamu ke-delapan ‘Penulis Muda Lamholot’ dan teruslah mengabadikan peristwa dalam tulisan.
Ajang itu pun berakhir. Saya dan Pak Ronny serta Ibu Cici mengambil gambar bersama para peserta. Kami bersalaman dan berpisah dengan senyuman penuh kekeluargaan. Guru pendamping pun ikut terlibat memberikan salam perpisahan. Tugas sebagai ‘JURI’ pun berakhir di aula itu, tetapi kekeluargaan harus terus dipupuk, baik antar Juri dan Siswa maupun antara IKTL dan SMA/SMK se-Kabupaten Flores Timur. Mari berkolaborasi. Terima kasih.*(editor: HBW)

